Selasa, 19 Agustus 2014

Menjadi aku

Dipinggir jalan,
dipayungi oleh lampu jalan,
kita menengadah ke langit malam ini.

Ada pameran lukisan yang dipertontonkan oleh bintang - bintang itu.
Dia terkesima memandangi pameran itu.
Tapi aku,
hanya diam memandangi kesombongan-Mu yang ada pada dirinya.
Kesombongan itu adalah kesempurnaan.

Tak sedikitpun dia berpaling.
Aku bertanya,
"Kenapa Kau tidak menunjukkan kesombongan-Mu padaku?"
Kau hanya diam.
Menghabiskan batang rokok terakhir yang ada di saku-Mu itu.

Kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri,
"Apakah aku harus menjadi pelukis, dan menggantungkan karya - karya ku di bintang itu agar dia mencintaiku?"
entahlah,
pada akhirnya aku tetap terdiam memandangi dalamnya laut kesunyian,
laut yang sekejap dia ciptakan untukku saat itu.

Ketika semua terasa baik saja,
seketika semesta mulai murung.
Mulai disampaikannya tetesan - tetesan rindu,
dari mata langit kepada wajah bumi.
Pameran itu tutup begitu saja.

Dia pun lekas berdiri untuk menghindari hujan,
kemudian memandangiku, dan tersenyum.
Semua itu sudah cukup bagiku.
Cukup untuk menyelamatkanku yang hampir saja mati tenggelam di laut itu.

Aku sadar,
untuk mencintainya tak perlu menjadi langit,
bukan juga bintang,
bukan juga Kau.
Mencintainya cukup menjadi aku.

- Verrel Argo Baldi, Agustus 2014.

1 komentar: