Di tengah bayang dan gulita;
kita sama-sama suka malam.
Aku hafal rasi-rasi anehmu.
Kamu sering mengguratkannya dengan ujung jari
sewaktu melawan dinding-dinding pekat.
Ada yang berbentuk rumah dengan taman-taman kecil di halamannya,
malam tahun baru,
es krim,
anak-anak berlari, dan ciuman di...
Jumat, 17 Februari 2017
Kamis, 11 Agustus 2016
Favorite Ecstasy
I could sit on the sidewalk for hours;
observing the scars along your back,
tracing all wrinkles of time you collect,
stare at your myopic eyes.
Curiously decoding the cries,
the stories,
the pain,
the tragedy that people told me.
Seeking truth like Thoreau.
But in front of your flabbergasting arch,
and...
Senin, 25 Juli 2016
Lavender Dream
I wonder how it feels like to be a lavender,
just for fun.
Born and grew purplish from Cape Verde spring.
I would sway around in constant motion with the wind and laughter,
showing you shades of hidden sincere beauty.
With the new greenish budded leaves
as it caresses the row of your hands; gently,...
Rabu, 06 Januari 2016
Takut untuk berani
Kepada kamu,
yang tidak percaya
dan yang takut.
Sebelum pembunuhan itu kamu sangat percaya.
Berdiri tegak dan berani.
Kamu tidak takut, untuk sepenuhnya jatuh;
menjadi halaman dimana orang lain melepaskan sepatunya
ketika lelah bekerja,
menjadi rokok terakhir yang bersedia dibakar
untuk kenikmatan...
Sabtu, 02 Januari 2016
Perlucutan
Saat ketakutan itu datang
aku meringkup di ujung kamar,
mendengar teriakan tentang yang salah dan yang benar
dan yang tidak akan kembali.
Suara kaca pecah dan lari-lari bergemuruh.
Inikah dunia?
Tentang tangis ibu pecah di ruang tengah.
Wajahnya yang pucat pasi
seperti bunga terakhir di awal musim...
Jumat, 20 November 2015
Ketaksaan
Di antara diam dan debur;
Aku mercusuar, dan kamu melayar jauh.
Aku akan sibuk sendiri bergeming.
Mengakar di ujung tebing,
menabahkan diri pada batu-batu.
Temaram di antara kabut
tak henti-hentinya mengeja kegetiran.
Sementara kamu akan lebih sibuk melawan badai,
tak peduli kelukur...
Selasa, 18 Agustus 2015
Ibu, lihatlah aku
Ibu, aku harap kau masih dapat melihatku. Ini anakmu yang dulu suka merengek karena kelaparan dan tidak mampu makan sendiri. Yang dini hari suka sekali membangunkanmu dengan tangisanku yang keras, padahal tubuhku begitu kecil. Aku anak yang dulu tidak tahu malu ketika membasahi baju-bajumu dengan air...